25 Des 2013

Sahabatku, Kekasihku, Mantanku.

Juni, 2013.

Malam ini aku sepi sendiri, bukan cuma sekali aku bolak balik mengambil dan menyimpan ponselku hanya untuk melihat apakah ada pesan masuk disana atau tidak? Dan ternyata sampai jam menunjukan hampir pukul sebelas malam ini pun tak ada pesan masuk darimu. Akhirnya akupun memberanikan diri mengirim pesan padamu “Sudah pulang?” yang memang sepantasnya dilakukan oleh seorang kekasih terhadap pacarnya.

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya pesanku yang tadi aku kirim ada balasannya juga “Sudah”. Setelah membaca balasan pesannya akupun melanjutkan pertanyaan standar selayaknya orang yang memang berpacaran “Sudah makan malam kah?” dan diapun menjawab “Sudah, ini baru kelar mandi. Sudah larut aku tidur duluan yah. Seharian aku banyak kerjaan” melihat balasan pesannya itu akupun membalas “yasudah” walau dalam hati tersimpan rasa kecewa karena sebenarnya aku masih ingin bercakap-cakap panjang lebar dengannya.

Kejadian seperti itupun terulang bukan hari ini saja tapi beberapa hari, minggu, bulan ke depan setelah kita memutuskan untuk berpacaran, padahal keputusanku untuk berpacaran denganmu bukanlah keputusan instan, kita sudah saling mengenal satu sama lain cukup lama sebelum kita memutuskan untuk berpacaran. Kisah perkenalan kita dimulai ketika tiga tahun lalu dalam suatu acara aku dikenalkan dengannya oleh salah satu temanku. Kitapun berkenalan dan pada saat itu statusku single dan sangat amat berniat mencari kekasih sehingga dalam waktu yang bersamaan aku menerima beberapa orang yang datang mendekat untuk pedekate, dan dia salah satunya. Tapi dikeputusan finalnya akhirnya akupun mengeliminasi dirinya dan memutuskan memilih orang lain untuk menjadi kekasihku.

Setelah kejadian itu dia perlahan menjauh, tetapi beberapa bulan kemudian dikarenakan seringnya terjadi pertemuan yang mempertemukan aku dengannya,kita akhirnya menjadi dekat layaknya seorang sahabat. Setahun dua tahun kedekatan kita, dan setahun dua tahun pula aku sudah beberapa kali ganti pacar hingga akhirnya aku kembali sendiri lagi. Selama itu selalu ada dia disampingku yang menjadi sahabtku yang menjadi teman ngobrolku.

Sampai suatu waktu kedekatan kita menjadi sangat dekat dan tiba-tiba pada saat itu kamu bertanya padaku “hari ini tanggal berapa?” akupun menjawab “18 Maret” terus kamupun menimpali “mau gak kamu jadi pacarku?” dan akupun tak menjawab. Aku tak langsung menjawab karena aku tak mau gegabah dalam memutuskan untuk berhubungan kali ini apa lagi dia adalah orang yang selama ini dekat denganku, aku ga mau seandainya kedepannya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam hubungan kita berakhir dengan sesuatu yang disesali dengan keputusan ini. Akhirnya akupun mencari waktu yang tepat untuk memtusukan menerima ajakan dia untuk berpacaran. Dan hari itu adalah hari ulang tahunku sekitar seminggu setelah dia ‘menembak’-ku.

Di hari itu akupun memintanya menjemputku di rumah pukul lima sore, aku berencana makan malam di luar dan menjawab ajakannya berpacaran denganku. Akupun menyiapkan diriku dari siang untuk acara makan malam nanti malam. Tapi pas waktunya sesuatu terjadi. Di jamnya yang seharusnya aku dijemput dia menghilang tak ada kabar dan tak bisa dihubungi dan persiapanku yang sudah lama kusiapkan ini akhirnya harus berakhir dengan berantakan.

Malamnya diapun meminta maaf karena ada salah satu alasan yang membuatnya tak bisa menjemputku, dan karena aku terlanjur mencintai dan menyayanginya akhirnya akupun memaafkannya. Dan setelah itu kitapun jalan menjadi sepasang kekasih tanpa tahu kapan kita jadiannya.

Oktober, 2013.

Setelah kita menjalin kasih hari demi hari ada yang berubah dengan hubungan ini, hubungan ini rasanya hambar, kita hanya terjebak dalam sebuah hubungan berstatus belaka. Dirinya tenggelam dalam kesibukannya dan akupun menjadi sepi sendiri. Aku tak mau kisah cintaku berjalan seperti yang lalu-lalu, hanya sesaat semata lalu sirna. Akupun akhirnya berusaha beradaptasi dengan kesibukannya, menurunkan segala ekspektasiku tentang hubungan ini, menguburkan harapan-harapan yang sebelumnya terbayang bakalan terjadi bila kita bukan sekedar sahabatan tapi berpacaran. Aku bersabar dari hari ke hari, minggu ke minggu sampai bulan ke bulan. Sampai tiba pada saatnya aku sudah berada dalam puncak kesabaranku. Puncak hubunganku yang tak terhubung ini.

Dalam satu waktu ketika aku ingin sekali berjumpa kekasihku, akupun mengajaknya bertemu dan begitu terkejutnya tiba-tiba dia mau berangkat liburan yang mana tiket pesawatnya sudah dia beli dari kapan hari dan aku sebagai kekasihnya saja tidak tahu menahu tentang itu. Dari kejadian itu akupun mantap mengakhiri hubungan ini.

Aku ingat sebelum aku memutuskan hubungan ini kamu menyanyikan lagu ‘Teman Hidup’ miliknya Tulus, tapi sayang sepertinya kamu salah membawakan judul lagu miliknya Tulus itu, seharusnya kamu membawakan lagu berjudul ‘Sepatu’ karena cinta memang banyak bentuknya mungkin tak semua bisa bersatu.

Desember, 2013.

Dan malam ini aku sepi sendiri memikirkanmu yang terasa makin menjauh dari hidupku. Persahabatan bisa dan sering tumbuh menjadi percintaan tetapi percintaan sangat langka untuk tumbuh menjadi sebuah persahabatan, dan itu berlaku bagi hubunganku denganmu.


15 Feb 2013


"Pada awalnya, semua orang bangga dengan pilihannya.
Tapi pada akhirnya, tidak semua orang setia pada pilihannya.
Saat ia sadar bahwa yang dipilih mungkin tidak sepenuhnya seperti diimpikan.
Karena yang tersulit dalam hidup bukanlah memilih, tapi bertahan pada pilihan."
anonim

11 Feb 2013

Hello Stranger



Laugh
Sebuah pertemuan denganmu di suatu sore di sebuah gedung tua itu membuat sebuah cerita sendiri dalam kisah hudpku, sebuah kartu nama yang kau berikan padaku akhirnya bisa menguak sedikit identitas tentangmu. Sore itu yang tanpa direncanakan akhirnya kita berjumpa juga setelah sekian lama kita hanya berkomunikasi hanya sebatas pesan di dunia maya.

Satu hal yang membekas dalam ingatanku dari perjumpaan kita di sore itu adalah tawamu, suara tawamu yang keluar karena sebuah adegan lucu di saat kita menonton film bersama membuat aku suka, karena serasa dunia jadi bahagia oleh suara tawamu yang membahana.

Lust
Dari pertemuan pertama, selanjutnya kita berjumpa dalam kesempatan lainnya. Malam itu, ditengah hujan dan kemacetan kota ini tiba-tiba dirimu ingin bersua denganku. Udara yang dingin membuatku nyaman duduk dan mengobrol di sampingmu, sampai waktupun berlalu tak terasa melaju. Malam kian larut dan kau masih ada di ruanganku yang akhirnya kita bersatu dalam selimut.

Love
Setelah sekian lama bersamamu, akhirnya aku merasakan sebuah rasa yang sudah lama tak singgah di dada, rasa gelisah karena takada kabar darimu, rasa bahagia ketika bersamamu dan sejuta rasa yang akan terus kurasa bila kita bersama. Apakah ini cinta? Entahlah diriku sudah lupa.

Lost
Waktu terus belalu, melaju bersama pilu karena kini kau hilang dari pandanganku. Kita jadi jarang bertemu walau bayang-bayangmu selalu hadir dalam ingatanku. Sekarang tak ada lagi BBM basa basi yang bikin nyes di hati, seperti hari-hari sebelumnya yang pernah kita lalui. Aku rindu mendengar tawamu, sentuhan lembut belaian tanganmu dan dekapan hangat tubuhmu. 

Tapi sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersatu, karena ternyata dirmu masih terlalu asing bagiku...




aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggung saja.
seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya.
seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar.
seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.
seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
Hanya Isyarat - RectoVerso, Dee Lestari 

29 Jan 2013

Falling In Love At a Coffee Shop



Image Courtesy of Anastasia Autumn

Sore itu pertemuan kedua kita, semenjak hampir tiga bulan kita berkomunikasi di dunia maya. Minggu sore, pukul tiga kita berjumpa di salah satu kedai kopi. Kutemui kamu terlihat sedang khusuk fokus menatap layar laptopmu, sambil sedikit menggoyangkan kepala yang mungkin akibat dari lagu yang bersumber dari earpod yang menempel di telingamu yang tersambung dengan ipodmu.

Sejujurnya walau aku senang dengan suasana kedai kopi, tapi aku sangat sensitif dengan kopi, apapun jenisnya dan campurannya. Untungnya sensitif disini bukan bikin perut mules seperti yang kamu alami bila salah mengkonsumsi makanan, tapi hanya efek sesudah minum kopi yang membuat mata kadang bisa melek luar biasa sehingga terjaga di malam buta.

Setelah memesan sebuah minuman akupun kembali ke mejamu, kamu masih tetap fokus dengan laptopmu karena ada beberapa pekerjaan yang harus kamu selesaikan, aku menyedot Vanilla latteku perlahan sambil melihatmu dan pemandangan di luar jendela di belakangmu, hari ini langit Jakarta adem sekali, langit penuh awan, sedikit mendung tapi hujan belum turun. Suasana seperti ini makin membuat nyaman untuk berlama-lama duduk di kedai kopi ini.

Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, kamu memutuskan untuk menyudahi hubungan dengan laptopmu dan akhirnya bisa fokus kepadaku. Setelah obrolan kecil akhirnya kita memutuskan untuk beranjak keluar kedai kopi dan memutuskan untuk menonton sebuah film yang tayang di bioskop yang berada di lantai atas kedai kopi ini.

Akhirnya kitapun beranjak meninggalkan kedai kopi ini...

*

Empat minggu kemudian...

Sabtu siang ini aku ada rencana makan siang dan lanjut nonton sebagai suatu rutinitas menghabiskan waktu di akhir pekan bareng sahabat-sahabatku. Sebenarnya ingin rasanya kuhabiskan akhir pekan ini bersamamu, seperti akhir pekan lalu yang kita habiskan seharian berdua menikmati suasana dan jalanan ibu kota, tapi apa daya tak ada tawaran rencana apapun darimu.

Pukul sebelas siang, ketika kubersiap-siap untuk acara makan siangku tiba-tiba ponselku berbunyi ada pesan darimu yang menanyakan rencana hari ini, akupun menjawab kalau hari ini aku ada rencana pergi dengan para sahabatku dan kamupun membalas hanya dengan kata “OK” seperti sebelum-sebelumnya kamu terlalu datar dan selalu mendadak mengajakku, yang membuatmu cukup misterius bagiku, padahal inginku ada ajakan bermalam minggu darimu.

Akupun akhirnya berjalan bersama sahabat-sahabatku di sebuah mall baru ibu kota yang ternyata di dalamnya susah sinyal sekali, dua ponselku mati kutu dibuatnya. Setelah menghabiskan waktu makan siang dan keliling mall bersama, kita semua memutuskan untuk menonton film seperti biasa. Ketika masuk area bioskop barulah sinyal itu datang menghampiri ponselku, dan muncullah pesan darimu.

Seperti biasa ketika susah berkomunikasi kau pasti menggunakan salah satu media yang sebagian orang enggak kepikiran untuk berkirim pesan lagi disana, tapi kamu melakukannya. Kamu mengabariku kalau kamu seperti biasa sedang duduk manis di sebuah kedai kopi. Dari sedikit komunikasi itu akhirnya kamu dan aku merencanakan menonton bersama nanti malam setelah aku usai menonton film bersama sahabatku. yang apabila itu terjadi berarti kau akan duduk manis tiga jam lebih menungguku.

Setelah hampir tiga jam aku menonton film bersama sahabatku, akhirnya aku meluncur menemuimu di sebuah kedai kopi itu. Aku menemukanmu sepeti empat minggu lalu duduk manis di depan layar laptopmu sambil menyumbat lubang kupingmu dengan earpodmu. Akupun menghampirimu dan kaupun memberitahuku sudah hampir enam jam kau duduk di kedai kopi ini dan menghasilkan tiga  esai kau tulis dalam waktu tersebut.

Kaupun meminta beberapa menit untuk merampungkan pekerjaanmu, aku duduk dihadapanmu sambil memainkan ponselku, ingin rasanya aku mengambil ipodku dan memutar sebuah lagu yang dari dulu kusuka tapi belom ada sosok yang tepat untuk lagunya, dan sekarang akhirnya aku menemukan sosok tepat untuk lagu itu, kamu.

Dan lagu itupun terngiang:

I think that possibly
Maybe I'm falling for you
Yes There's a chance that I've fallen quite hard over you

I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too

I think that possibly
Maybe I'm falling for you

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I think that possibly
Maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you

I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shining too

Because
Oh
Because I've fallen quite hard over you

If I didn't know you I'd rather not know
If I couldn't have you I'd rather be alone

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

All of the while
All of the while
All of the while it was you, you!
Falling In Love At a Coffee Shop - Landon Pigg


28 Jan 2013

Bicara Tentang Cinta



Bicara tentang cinta mungkin aku sudah sedikit lupa bagaimana rasanya. Sebuah rasa yang membuat dada sesak dibuatnya atau malah hati berbunga-bunga membuat rasa bahagia melanda.

Bicara tentang cinta kadang membuat seseorang menjadi gila. Ketika memikirkan si dia, seseorang bisa tersenyum sendiri tiada henti atau gundah gulana karena tak ada kabar datang darinya. Semua akan terasa lebih  berwarna ketika seseorang dilanda mabuk cinta.

Bicara tentang cinta kita tidak bisa memilih kapan dan dengan siapa kita ingin merasakannya, karena kadang cinta datang dengan sendirinya, tanpa dirasa cinta sudah berada di hadapan kita dan kita sulit untuk menghindarinya. Kata orang cinta itu buta, tapi menurutku cinta itu tidaklah buta tetapi melainkan menjadikan pandangan kita sedikit berbeda, karena cinta pula sesuatu yang biasa saja malah  bisa sangat amat berharga di matanya.

Bicara tentang cinta kurasa semua pernah mengalaminya. Sesuatu hal sederhana bisa menjadi sesuatu hal yang sarat makna. Membuat logika tidak bisa berkata-kata, karena hati yang terlalu banyak bicara.

Bicara tentang cinta, aku ingin kembali merasakannya, ketika aku dan kamu akhirnya menjadi kita dan dunia serasa hanya milik berdua, semua itu karena cinta. 

20 Jan 2013

Aku Bukan Pacarmu

Dear kamu.....


Aku tau kamu bukan pacarku, tapi aku suka ketika waktu malam itu tiba-tiba kamu BBM sebelum tidur, kamu bilang mau buka facebook dulu, terus kutanya buat apa liat facebook? Dan kamu jawab "Mau liat photo-photo kamu" Tsaaah. Gombal sik tapi aku suka.

Aku tau kamu bukan pacarku, tapi beberapa wiken ini kita menghabiskan waktu bersama, kongkow di kedai kopi, walau akibatnya aku jadi melek sampe jam tiga pagi karena ga biasa minum kopi. Kita janjian di bioskop yang sama walau kita musti nonton film yang berbeda, dan menghabiskan waktu bersama lainnya. Aku suka karena aku cuma berdua sama kamu.

Aku tau kamu bukan pacarku, tapi setiap aroma parfum bajumu aku hapal selalu, walau entah itu merk parfum apa tapi aku suka, aku juga suka ketika tawamu membahana dengan khasnya yang buat aku sulit lupa.

Aku tau kamu bukan pacarku, tapi kamu dekat denganku sekarang-sekarang ini, dari kita intens saling berkirim pesan di BBM dan facebook, terus ketika aku lama tak berkirim pesan di kedua media itu, tiba-tiba kamu whatsapp diriku menanyakan ku. aku jadi terharu.


Aku tau kamu bukan pacarku, tapi aku suka malu ketika kita makan berdua dan kau mulai berdoa, doa makanmu lebih lama dibanding doa makanku, sehingga aku jadi agak kikuk kalo mau mulai makan
denganmu.


Aku tau kamu bukan pacarku, tapi kamu mengajakku karaoke berdua terus kamu bertanya padaku "Mau nyanyi apa? Pacar Rahasia?" Aku jadi malu, walau sebenernya apakah ada judul lagu seperti yang kamu sebut tadi itu.

Aku tau kamu bukan pacarku, mudah-mudahan kamu memang belum punya pacar sepertiku, soalnya ketika kutanyakan tentang itu, kamu cukup tertutup padaku. Walau kamu kelihatannya single bagiku tapi kan siapa tahu.

Aku tau kamu bukan pacarku, tapi aku mau lama-lama dan sering bersamamu, karena aku merasa nyaman berada disebelahmu.

Aku tau kamu bukan pacarku, tapi kamu dengan lembut dan penuh kasih sayang membelai rambutku, menginjinkan kepalaku bersandar di dada bidangmu, dan pelukanmu menghangatkan tubuhku.

Semoga kita bisa terus bersama melakukannya seperti yang telah kita lakukan bersama-sama ini sejak tiga bulan lalu walaupun kenyataannya kamu bukan pacarku.






Salam,
Aku yang belum menjadi pacarmu atau mungkin cuma hanya jadi temanmu.

17 Jan 2012

Teruntuk (mantan) Bosku


Dear Bos...


Bagai petir di siang bolong, ketika diriku menerima surat pelantikanmu Bos, yang berarti Bos dimutasi dan kita tidak menjadi sepasang Bos dan Sekretaris lagi. Walau sebenarnya berita ini sudah berhembus dari akhir tahun lalu, tapi diriku menganggapnya hanya angin lalu saja, toh setahun lagi Bos akan memasuki masa purnabakti dan kinerjamu dalam keadaan normal tanpa ada masalah apapun, tapi ternyata perkiraanku salah, kebijakan sang petinggi berkata lain.

Ketika malam tangal 14 Januari 2012 sehabis Bos dilantik, diriku mendapat kabar kalau Bos ditugaskan ke Bangka Belitung, tiba-tiba sesak di dada menerpa. Bagai sepasang kekasih yg tiba-tiba diputuskan tanpa alasan oleh pacarnya, begitu mendadak dan tak terduga. Padahal ditengah kejenuhan diriku untuk tetap menjadi seorang sekretaris, diriku sudah merelakan tetap menjabat posisi ini setidaknya sampai Bos memasuki masa purnabakti tahun depan, tapi ternyata suratan berkata lain...

Bos...
Masih ingat gak?? diawal diriku menjadi sekretaris dirimu, di hari kedua bulan puasa di tahun 2008, dimana pada saat itu diriku lungsur dari jabatan sekretaris sang bintang tolak angin itu, diriku bersyukur turun pangkat setidaknya doa-doaku dikabulkan dan mengurangi tingkat stress. Dan hampir tiga tahun lebih kita bersama, banyak suka dan duka tergores karena hampir tiap hari kita bersua.

Bos…
Masih ingatkah gak? Bos pernah mengajakku makan siang pertama saat diriku menjabat sekretarismu, Saat itu Bos memintaku menyetir mobil, sayangnya diriku tak bisa  menyetir mobil dan terpaksa Bos sendiri yg mengemudikannya.Ketika itu Bos mengenalkanku pada Soto Mentjos yang walau tempatnya gak banget tapi yg antri pas maksi banyak banget.

Sehabis itu Bos sering mengajakku keluar, ke PMI yang di Keramat buat donor darah, padahal diriku gak pernah donor, cuma mengantar Bos semata, atau ke Toko Buku Wali Songo yg di Kwitang, yang ternyata isinya buku agama semua. Dan yang paling diingat untuk pertama dan terakhir kalinya Bos mengajak diriku ke DPR buat ikut rapat disana, karena diriku masih ababil saat itu aku malah nunggu di kantin sampai Bos selesai pembahasan anggaran, dan semenjak itu diriku selalu mencoba sebisa mungkin  menghindar kalau diajak keluar.

Sampai satu waktu, karena diriku selalu menghindar buat makan siang diluar denganmu, karena diriku lebih memilih maksi dengan gengku. Tiba-tiba dirimu memberika segepok uang buat mengajak beberapa pegawai dan teman-temanku makan siang di Mentjos, Soto kesukaanmu, sedangkan dirimu lebih memilih diam di kantor dan hanya minta diminta dibungkuskan sekantong soto untuk makan siang di meja kantor.

Bos...
Masih ingat gak?? tiap pagi sehabis olah raga pas datang ke kantor menjumpai diriku yang sedang sarapan oat, dan karen dirimu ingin mencoba, besoknya dirimu beli oat sebungkus besar, sayangnya oat yg dibeli salah, bukan oat seduh tapi oat masak, yg jadinya dirimu sarapan lontong sayur lagi.

Bos...
Masih inget gak?? pas diriku pertama pakai BB, seminggu kemudian dirimu ikutan pakai BB lagi, dan sebulan kemudian Istri Bos juga ikut pake BB dan ke kantor buat dibikinin email, yang kadang diriku lupa password email Bos dan Istri Bos walau diriku yg bikinin,

Bos...
Masih inget gak? Pas Bos bikin warung dan kos-kosan pasti konsultasi masalah cat dengan diriku, Diriku menawarkan saran perpaduan cat abu, tapi Bos keukeuh pengen kuning dan ungu. Dan pas besoknya setelah dicat sesuai keinginan Bos, Bos malah bilang "Koq norak yak?" Hahaaa...

Bos...
Masih inget gak?? Pas Bos mau jalan ke Swiss, dan disana lagi musim dingin diriku sibuk nyari Long Jhon. Untung nemu yg murah di Mangga Dua. Padahal di webnya mahal-mahal. Dan gak mungkin kan bos mau beli daleman baju semahal itu.

Bos....
Masih inget gak? Sepulang dari Bali, bos pulang pake Damri padahal diriku sudah kirim supir buat jemput, Bos ditelepon gak bisa-bisa, ternyata koper Bos ketukar dengan orang dan dengan pinternya Bos nyimpen henponnya di koper. Tapi tidak seperti pejabat lainnya, bos mengurus semuanya sendiri. tak meminta bantuanku buat ngurusin koper itu buat ditukar kembali.

Bos...
terlalu banyak kenangan kebersamaan kita setiap hari, pegawai di bilik lantai tiga ini selama tiga tahun ini datang dan pergi silih berganti, cuma diriku dan dirimu Bos yg masih duduk manis ditempatnya. Nanti malam farewell party dirimu dilaksanakan, beberapa pejabat bawahanmu memintaku membacakan sepatah dua patah kata kesan-kesan selama menjadi Sekretarismu, karena cuma diriku yg tersisa sebagai pendampingmu paling lama di masa pengabdianmu di kantor ini. Tapi, maaf sekali jadwal perpisahan dirimu bentrok dengan jadwal ujianku, pasti dirimu mengerti ya Bos?...

Bos..
Walau beberapa pegawai di kantor mungkin tak menyukai kebijakan-kebijakanmu, tapi secara personal dirimu adalah teladan Bos, dirimu seorang pejabat yg gak menganggap bahwa "Hai aku ini pejabat!!" Dirimu terlalu sederhana untuk sebagai sosok seorang eselon, semoga kesederhanaanmu dan keramahanmu menjadi bekal berharga bagi diriku kalau nanti bisa sepertimu.

Bos..
Selamat menjalankan tugas di tempat baru, anggap saja liburan setahun di tempat syuting film Laskar Pelangi sebelum masa purnabakti.

Bos….
Diriku selalu akan mengingatmu.





Sekretarismu,
aih

10 Jan 2012

Karaoke



Ku berlari turun dari metromini, hujan rintik di pagi ini jangan sampe membasahi pakaian dan merusak tampilanku hari ini, siang nanti diriku berencana ke kantor imigrasi dalam rangka keperluan membuat paspor, jadi hari ini aku musti tampil sempurna.

Ku berlari menyebrangi jalan, memasuki pintu gerbang kantor dan melewati pos satpam.

Ketika diriku sampai di teras gedung, akupun mulai merapihkan pakaianku dan berjalan kembali, tapi tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang. Sesosok lelaki berumur diatas tiga puluh tahun lebih  dengan menggenakan seragam biru tua itu ternyata yang memanggilku.

Akupun berhenti  menunggu dia menghampiri.

“Mas, di Gedung mana??” Tanya lelaki berseragam biru yang ternyata adalah satpam.

Akupun kembali berjalan dan berkata “Gedung B” jawabku jutek. 

Kukiraada kepentingan maha dahsyat sehingga dia  memberhentikanku, tapi tenyata basa basi belaka. Akhirnya kita berjalan beriringan dan dia menanyaiku kembali  “Sudah lama mas, kerja di sini?”

Aku jawab dengan jutek “Hampi 4 tahun”.

Aku mempercepat langkahku karena enggan berbasa-basi dengan satpam ini.

Tiba-tiba dia bertanya “Suka karaoke Mas?”

Dalam hati kuberkata, pasti satpam ini punya voucher Inul Vizta yang baru buka di mall samping kantor. Dan kujawab “Suka, kalo sama temen sik” dengan ketus.

Akhirnya gerbang pintu lobby kantorku tinggal beberapa langkah lagi. Dan satpam itupun bertanya kembali padaku. “Mau karaoke Mas?? Punyaku gede lho!”

Tepat di depan lobby kantor ku dan melihat sosok satpam ini. Sial, name tag di bajunya terbalik dan diriku gak kenal satpam ini, padahal hampir aku kenal semua satpam yang sering kebagian menjaga ruanganku.
Akupun akhirnya berkata “terimakasih” dan pergi meninggalkannya.

Dan si satpam-pun masih tetap berbicara "Beneran gak mau Mas? Punyaku gede lho”


Ergh… 


Lapangan Banteng, Februari 2010

30 Des 2011

Harga Sebuah Pertemanan (4) - End


“Life is a drama, and you only have two options: being the audience or being the actor.”

Setahun sudah bolpoint ini mencorat-coret dalam lembaran yang bertajuk 2011, sudah banyak catatan, coretan, gambar, tipe-ex yang tergores di 365 lembaran hari. Suka, duka, tawa, canda, tangis dan bahagia terpotret dalam kamera tahun ini. Banyak pelajaran berharga yang bisa menjadi pembelajaran dikemudian hari agar tidak terulangi lagi.

Salah satu pelajaran berharga  bagi diriku di tahun ini adalah bubarnya Geng Maksi, sebuah komunitas makan siang yang dulu sangat membahana di komplek kantor ini sampai terkenal di instansi lainnya. Semua itu akibat dari protesnya diriku yang merasa ada ‘sesuatu’ dibalik geng maksi ini yang mengganjal. (cerita bisa dibaca di kisah Harga Sebuah pertemanan 1 dan 2). 



Berawal sedikit protes diriku atas sesuatu yang merasa tidak berjalan di koridornya, tapi ternyata setelah diprotes ternyata makin melenceng dan makin hilang kendali lepas dari koridor yg seharusnya berjalan tadi. 
Seorang teman pernah berkata:

“When you know your friends are talking about you behind your back, don't bother to clarify. They're not your friends anymore.”

Tapi dari kasus-kasus kemaren aku memilih untuk mengkarafikasi karena tak ingin begitu saja meninggalkan kalian, ya manusia tidak sempurna kemungkinan besar kesalahan ada padaku. Dan  dari kejadin setelah protes-protesku dahulu, kita melakukan introspeksi masing-masing, disimpulkan kita tetap menjadi Geng Maksi yang sampai akhirnya bubar sendiri. 

 “Fake friends never betray in front of you. They always do it behind you.”

Pernah satu ketika diriku menulis quote seperti ini dalam status BBM: 

 ”Being alone, even lonely, is better than being together with wrong people”.

Kalian mengangap diriku tak tahu kalo status ini jadi bulan-bulanan kalian di belakang, sayangnya aku tahu. (kalian lupa? Siapa yang paling Kepo diantara kita semua??) Padahal sebenarnya status ini ditujukan buat hubungan percintaan (yah, buat mantan yang selalu maju mundur tepatnya) tapi kalian yang tersindir, sampe pernah salah satu kalian berkata “lebih baik sendiri dan merasa sepi dapiada makan siang bersama dengan orang-orang yang salah!” . Hahaaa… dasar kalian….

Sampe sampe salah satu kalian pernah berbincang kalau alergi kebodohan dan kepalsuan dalah Megabintangphobia. Hahahaaaa…

Dan hari ini salah satu temanku berkata, lih temanmu  (salah satu anggota geng maksi) kehilanganmu saat jumatan, baca gih tweetnya..

Dan akupun membaca beberapa tweetnya:

“setelah pekan kemaren Mega Bintang tidak shalat jumat disampingku, hari ini resmi dia memilih duduk di samping Rio… hiks..hiks…”

“Selamat jalan Giga Bintang, semoga kamu tak lupa aturan pertama dalam hidup ini Orang-orang yang di dekatmu belum tentu kawan”

“Jumat siang ini, terasa seperti Jumat dua tahun lalu, hanya aku dan Bunda duduk berdampingan… Sang Bintang duduk didalam disekat kaca”

“lebih baik sendiri dan merasa sepi daripada bersama dengan orang-orang yang salah..” *Peluk Nano Bintan* | diatas Giga itu Nano bukan?

Yeah, Jumat lalu diriku pulang kampung dan jumat sekarang aku mau menyapa rio saja yang sebenernya melihat cuaca di luar panas mau nyoba apa AC Masjid yang baru itu ngefek gak? Ternyata enggak.

“Some people are just like soft drinks. It tastes sweet, but it's not good for us.”

“Some people are just like mineral water. It tastes nothing, but we can't live without.”

Apakah kita-kita ini termasuk soft drinks atau mineral water?? Hanya kita yang bisa merasakannya. Kebersamaan Geng Maksi yang selama 2 tahun begitu hangatnya  serasa suasana makan siang dengan keluarga di rumah, tapi sekarang? Itu sirna sudah. Apakah kalian kangen dengan hahahihi menggangu orang lain ketika makan siang??...

“Friends are like second family you make for yourself.
Friendship makes you feel home though you’re not at home.”

Maafkan bila tulisan-tulisan sebelumnya membuat kalian merasa tak enak, hingga sampai membuat salah satu dari kalian mengganti username hingga menggembok akun.  2011 sudah dipenghujung hari, mari kita buka lembaran baru bersama dan entah apa yang terjadi dengan  kita-kita. Maaf atas segala perbuatanku yang membuat kalian tidak berkenan. 

“One thing I learn about happiness: It's made, not found.
If you want to be happy, you must create it yourself.”

Lahirnya protes diriku kemaren karena sebagai persiapan perbaikan suasana pertemanan kita satu sama lain untukuntuk persiapan liburan kita di awal tahun 2012 nanti,  Agar pas liburan gak ada yang mengganjel. Tapi ternyata dampak tak yang diharapkan meleset, tapi tak apalah, toh akhirnya diriku gak ikut liburan kalian ke Vietnam (walau musti menghanguskan tiket dibeli dari uang rapelan gaji itu) selain karena tak ingin merusak acara liburan kalau keadaan belom kembali pulih seperti semula dan ternyata tanggal segitu bertepatan dengan diriku UAS. Jadi makin musti merelakan liburan yang sebelumnya sudah digadang-gadang jauh-jauh hari. Selamat liburan (ex) Sporty Maksi, (ex) Scary Maksi & (ex) Baby Maksi. 

“Real friends are not those who make you feel happy, but those who make you feel comfortable.” 

“If you're not comfortable where you are now, maybe that's not your place. Just quit it.”

Kalau memang ini jalannya, mudah-mudahan ini yang terbaik bagi kita semua,seperti dikutip dalam film Arisan!2  “Teman datang dan pergi, teman sejati selalu dihati”

Akhir kata…

“You must be wise in choosing friends or you will have more enemies”


Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua, selamat tahun baru, semoga 2012 akan banyak coretan yang lebih seru...








(ex) Posh Maksi,
aih



NOTE:
Tulisan merah quote dari  @wilzkanadi pemilik blog http://wilzkanadi.blogspot.com/ 
Tulisan biru quote dari  @bernardls pemilik blog http://bangbernard.wordpress.com/